August 13, 2022

Sejarah Arema Indonesia dan West Ham United

8 min read
Arema Indonesia

3dcgstore.com – Sejarah Arema Indonesia dan West Ham United. Berikut adalah artikel tentang Sejarah Arema Indonesia dan West Ham United.

Sejarah Arema Indonesia

Arema Indonesia adalah klub sepak bola Indonesia yang berbasis di kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Asal usul nama Arema diambil dari legenda Malang yang bernama Patih Kebo Arema yang pada saat itu Kerajaan Singosari diperintah oleh Raja Kertanegara. Selama menjadi Gubernur Singosari, Patih Kebo Arema menorehkan prestasi gemilang. Ia mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara, pemberontakan Cayaraja dan menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi dan akhirnya ia mampu menguasai Selat Malaka. Meski namanya kalah populer dalam buku-buku sejarah dan kalah tenar dibandingkan Raja Kertanegara yang disebut-sebut sebagai raja tersukses di Singosari, bagi masyarakat Malang, Patih Kebo Arema merupakan sosok yang melegenda.

SSC Napoli dan Real Madrid. Awalnya terbentuk, klub tersebut menggunakan nama Aremada, yang sebelumnya telah menggabungkan dua klub lokal Malang, yaitu Armada 86 dan Arema. Tujuan dibentuknya klub saat itu juga untuk mengembangkan sepak bola di kota Malang yang saat itu didominasi oleh klub Persema Malang. Beberapa bulan kemudian nama klub berubah menjadi Arema 86, namun upaya mempertahankan klub Arema 86 menemui banyak kendala, bahkan tim yang diharapkan bisa berkiprah di ajang Galatama VIII mulai tersandung karena kesulitan dana. Dari sini, Acub Zaenal (mantan Gubernur ke-3 Irian Jaya dan mantan manajer PSSI di era 80-an) dibantu humas Persema, Ovan Tobing, yang mengambil alih klub dan berusaha menyelamatkan Arema 86 agar tetap berjaya.

Nama Arema 86 diubah menjadi Arema dan didirikan pada tanggal 11 Agustus 1987 dan karena lahir pada bulan Agustus maka muncul lambang Singo (Singa) yang mengacu pada gambar horoskop bulan. Di awal keikutsertaan Arema di kompetisi Galatama, pemain seperti Maryanto (Persema), Jonathan (Satria Malang), Kusnadi Kamaludin (Armada), Mahdi Haris (Arseto), Jamrawi dan Yohanes Geohera (Mitra Surabaya), hingga kiper Dony Latuperisa berhasil. direkrut untuk dilatih oleh Sinyo Aliandoe. Saat itu Liga Indonesia terbagi menjadi dua yaitu: Liga tim semi-profesional yang disebut Galatama dan yang lainnya adalah Liga Bangsa-Bangsa. Prestasi klub Arema di kancah sepak bola nasional mengalami pasang surut karena pembiayaan klub menjadi kendala utama. Namun, Arema berhasil meraih mahkota Galatama pada 1992 dengan modal pemain andalan seperti Aji Santoso, Mecky Tata, Singgih Pitono, Jamrawi dan mantan pelatih PSSI M Basri.

Sejak bergabung di Liga Indonesia, Arema tercatat sudah tujuh kali masuk babak kedua, yakni sekali ke babak 12 (tahun 1997) dan enam kali masuk babak 8 (tahun 2000, 2001, 2002, 2005, 2006 dan seterusnya). 2007). Meski prestasinya lumayan, Arema tidak pernah lepas dari masalah pendanaan dan di pertengahan musim 2003, klub asuhan Arema akhirnya diakuisisi oleh PT Bentoel Internasional Tbk dan di akhir musim Arema harus terdegradasi ke Divisi I. Namun dengan kekuatan finansial baru, Arema hanya punya satu musim di liga. Divisi satu dan promosi kembali membawa status juara dari Divisi I. Sejak itu prestasi Arema cenderung stabil hingga menembus Superliga. Dua bulan setelah kompetisi Liga Super Indonesia berakhir pada 3 Agustus 2009, pemilik klub Arema, PT Bentoel Investama Tbk akhirnya melepas klub Arema ke konsorsium orang-orang peduli dan klub Arema malang itu berubah nama menjadi Arema Indonesia.

See also  Sejarah Club Getafe dan PSM Makassar

Musim 2009/2010 klub Arema meraih gelar juara ISL setelah musim sebelumnya hanya nangkring di pos 10. Namun, pada musim berikutnya kekuatan yang dikuasai tim Persipura akhirnya membuat tim Arema harus puas berada di posisi runner-up liga. Arema Club menggunakan Stadion Kanjuruhan untuk menggelar pertandingan kandangnya. Arema Indonesia adalah tim kota dari Persema Malang. Grup Suporter Arema dikenal sebagai salah satu suporter fanatik di Indonesia bernama Aremania dan Aremanita.

Arema yang dikenal sebagai tuan rumah di Galatama membuat stadion Gajayana terkesan angker bagi para pengunjung yang akan melawan Arema. Hasil positif Arema saat bermain di kandang sendiri menarik minat masyarakat untuk menonton Arema. Hal ini membuat Lucky Acub Zainal berinisiatif membentuk Arema Fans Club (AFC), sebuah wadah suporter yang dikelola oleh klub sepak bola Arema. Kehadiran Arema Fans Club rupanya tidak mendapat respon positif dari suporter Arema, hal ini berujung pada pembubaran Arema Fans Club pada tahun 1994. Beberapa alasan yang muncul dalam pembubaran Arema Fans Club adalah masalah eksklusivitas organisasi dan tidak adanya regenerasi. Arema Fans Club yang selama ini berdiri lebih banyak dikomunikasikan dengan elemen pendukung lain di luar kota. Kondisi ini tidak disukai oleh beberapa kelompok geng pemuda yang saat itu banyak menjadi pendukung Arema. Apalagi pengaruh aparat keamanan (polisi dan TNI) di Arema Fans Club sangat kuat, sehingga menambah sikap antipati arek Malang terhadap Arema Fans Club. Beberapa kelompok geng pemuda yang semula bentrok berkumpul untuk membahas penolakan Arema Fans Club. Penolakan geng-geng pemuda terhadap Arema Fans Club muncul karena keinginan untuk tidak dihalau oleh Yayasan PS Arema (klub), apalagi saat itu beredar rumor bahwa Arema Fans Club berbau aranet (tentara) dan silup. (polisi), musuh utama geng. – geng pemuda.

Medio 1994 Aremania muncul, tidak jelas siapa dan dari mana penggagas nama Aremania itu berasal. Kata “Aremania” berasal dari kata “Arema” dan “Mania”, ungkapan yang melambangkan fanatisme suporter Arema. Pendukung Arema yang pada dasarnya memiliki basis geng-geng pemuda dari berbagai wilayah kota Malang bersatu dalam satu identitas “Aremania” dan salam “satu jiwa”. Sikap mandiri Aremania diwujudkan dengan tidak adanya pemimpin dalam tubuh Aremania, kepemimpinan tertinggi adalah musyawarah mufakat dari koordinator wilayah Aremania di Malang. Pembubaran Arema Fans Club sebagai instrumen suporter berdasarkan koordinator wilayah tidak serta merta menghilangkan dukungan Arema. Sistem korwil (koordinator wilayah) menjadi warisan dari Arema Fans Club setelah dibubarkan, meskipun struktur di atas korwil secara resmi dihapuskan.

Berbagai koordinator wilayah Aremania hadir di stadion dengan membawa bendera dan desain pakaian sendiri, dengan penekanan pada warna biru, gambar singa, dan pernak pernik lainnya yang membedakan mereka dari kelompok lain. Di dalam stadion, setiap Korwil Aremania memiliki wilayahnya masing-masing, Korwil dengan banyak anggota jelas memiliki wilayah terluas di tribun stadion, sedangkan Korwil yang lebih kecil akhirnya menjadi bagian dari Korwil besar. Ajang kreativitas menjadi pertarungan utama bagi kelompok arek Malang di stadion. Awalnya mereka saling berkompetisi dalam bentuk desain bendera dan pakaian, kemudian setelah Juan Rodriguez “Pacho” Rubio bermain di Arema, persaingan mereka melebar dalam bentuk menyanyi dan menari. Setiap koordinator wilayah selalu berusaha menghadirkan sesuatu yang baru dan diterima oleh penonton Arema. Oleh karena itu, mereka mencoba membuat yel-yel dan tarian baru untuk mendukung tim Arema.

See also  Sejarah Juventus FC dan Real Sociedad

Sejarah West Ham United

Nama lengkapnya, West Ham United Football Club, salah satunya adalah klub sepak bola dari tim nasional Inggris yang berasal dari kota London. Klub ini memiliki lapangan Boleyn Ground (Upton Park) yang berkapasitas 35.016 kursi. Pada awalnya klub West Ham United didirikan ketika para karyawan kapal ‘Thames Ironworks’ dikawal oleh Dave Taylor dan memiliki Arnold Hills untuk mengawasi sepak bola pada tahun 1895 dengan nama Thames Ironworks Football Club.

Tim berjuang di setiap kompetisi antara amatir dan juga menang di setiap kompetisi untuk sekitarnya. Dalam 3 tahun kemudian, tim menjadikan klub sebagai pemain Profesional dan mulai bersaing di lapisan ke-2 dengan nama Liga Selatan. Pada tahun 1899, mereka mengenakan kostum biru dan menggantinya dengan warna merah marun dan biru muda karena pada saat itu klub West Ham dikalahkan oleh Aston Villa, menjadi juara La Liga saat itu. Karena kesulitan keuangan, pada tahun 1900, Thames Ironworks FC benar-benar dibubarkan dan dibubarkan dan kemudian dibangun kembali klub baru bernama West Ham United Football Club. Karena asosiasi klub Thames Ironworks, dan klub terus memakai logo itu, dan dikenang sampai hari ini dengan simbol ‘The Iron’ {Iron Steel] atau ‘The Hammers'{hammer} hingga hari ini.

Pada tahun 1922-1923, klub West Ham United berhasil mendapatkan peningkatan hingga ke lapisan 1 Football League, komposisi pertandingan sepak bola Inggris yang tinggi saat itu. Tak hanya itu, klub West Ham United itu berhasil melaju ke babak semifinal Piala FA, yang untuk pertama kalinya bagi klub West Ham berlaga di Wembley yang dikenal dengan nama White Horse Final. Berbicara tentang salah satunya, pertandingan final diisi dengan penonton sebanyak 300.000 orang yang dikelilingi oleh seluruh isi stadion, oleh karena itu lokasi lapangan harus dikosongkan, karena saat itu ada manusia dan kuda dengan namanya Billie. Sayangnya, klub West Ham United saat itu dikalahkan oleh klub Bolton Wanderers, dengan skor 0-2, dalam pertandingan itu.

Prestasi klub West Ham United mereka sebelumnya banyak menghabiskan waktu di lapisan ke-2 dan didapat hanya beberapa kali masuk di posisi lapisan 1. Dan klub West Ham duduk di lapisan ke-2 untuk waktu yang sangat lama selama 31 musim sebelum Ted Fenton memimpin The Hammers untuk meningkatkan pada tahun 1958 dan meningkatkan tim untuk memasukkan pemain muda berkualitas tinggi. Klub West Ham dianggap sebagai salah satu klub yang berhasil membawa timnas Inggris ketika menjuarai Piala Dunia 1966, mereka berhasil memborong 6 gol timnas Inggris pada laga final dengan memberikan kontribusi dari dua West Ham. klub peserta saat itu, yaitu Geoff Hurst, dan Martin Peters. Menjadi kapten saat itu, Bobby Moore adalah pahlawan di West Ham United.

See also  Sejarah SSC Napoli dan Real Madrid

West Ham United Football Club adalah klub sepak bola Inggris yang berbasis di London. Klub memainkan pertandingan kandangnya di Stadion Boleyn Ground (Upton Park) berkapasitas 35.016 kursi. Awal mula West Ham didirikan ketika sekelompok pekerja galangan kapal ‘Thames Ironworks’ di bawah Dave Taylor dan pemilik Arnold Hills membentuk klub sepak bola pada tahun 1895 dengan nama Thames Ironworks Football Club.

Klub bersaing di beberapa kompetisi amatir dan juga telah memenangkan beberapa turnamen lokal. Tiga tahun kemudian, klub beralih ke status profesional dan mulai bersaing di Divisi Dua Liga Selatan. Pada tahun 1899, warna seragam biru klub diubah menjadi campuran merah marun dan biru muda, terinspirasi oleh keberhasilan Aston Villa memenangkan liga saat itu.
Karena kesulitan keuangan yang dialaminya, pada tahun 1900, Thames Ironworks FC kemudian hampir sepenuhnya dibubarkan dan kemudian dibentuklah klub baru bernama West Ham United Football Club. Karena akar mereka dari tim Thames Ironworks, mereka masih memakai emblem yang sama, dan dikenal hingga saat ini sebagai ‘The Iron’ atau ‘The Hammers’ (Palu) hingga sekarang.

Pada musim 1922/1923, West Ham United berhasil meraih promosi ke Divisi Satu Football League, kasta tertinggi kompetisi sepak bola Inggris saat itu. Tak hanya itu, West Ham juga mampu melaju ke babak teratas Piala FA yang untuk pertama kalinya digelar di Wembley yang dikenal dengan nama White Horse Final.

Disebut demikian karena puncak pertandingan diisi hingga 200.000 penonton yang menutupi seluruh sisi lapangan, oleh karena itu lapangan harus “dibersihkan” dari lautan manusia oleh seekor kuda putih bernama Billie. Sayangnya, West Ham dikalahkan Bolton Wanderers, 2-0, di partai itu.

Prestasi West Ham United sendiri di masa lalu lebih banyak dihabiskan di divisi 2 dan hanya beberapa kali masuk divisi satu. Mereka bahkan telah berada di divisi 2 selama 30 tahun sebelum Ted Fenton membawa promosi The Hammers pada tahun 1958 dan membangun tim dengan pemain muda yang sangat berbakat.

West Ham United dianggap sebagai salah satu kunci sukses timnas Inggris saat menjuarai Piala Dunia 1966. Empat gol yang dicetak Inggris di final disumbangkan oleh dua pemain West Ham kala itu, yakni Martin Peters dan Geoff Hurst. Kapten tim saat itu, Bobby Moore, adalah legenda West Ham.

Namun, prestasi klub mulai menurun pada 1970-an, ketika klub harus naik turun divisi. Saat Premier League digulirkan, West Ham selalu menjadi bagian dari kasta tertinggi kecuali selama tiga musim. Pencapaian terbaik West Ham pada periode ini adalah dengan menduduki peringkat kelima pada musim 1998/1999 saat Harry Redknapp masih memimpin.