August 13, 2022

Sejarah Club Getafe dan PSM Makassar

5 min read
Getafe

3dcgstore.com – Sejarah Club Getafe dan PSM Makassar. Berikut adalah artikel tentang Sejarah Club Getafe dan PSM Makassar.

Sejarah Club Getafe

Getafe Club de Futbol adalah klub sepak bola yang berbasis di daerah Getafe, sebuah kota di wilayah metropolitan Madrid. Getafe resmi berdiri pada tanggal 24 Februari 1946 dengan nama Club Getafe Deportivo yang dibentuk oleh lima warga lokal Getafe, yaitu Enrique García Condes, Aurelio Miranda Olavaria, Antonio Corridor Lozano, Manuel Serrano Vergara dan Miguel Cubero Frances.

Juventus FC dan Real Sociedad. Awalnya klub Getafe menggunakan Stadion Campo del Regimiento de Artillería, namun Getafe akhirnya pindah ke Stadion San Isidro. Dengan menggunakan stadion tersebut, Getafe berhasil dipromosikan ke divisi tiga pada musim 1956/1957. Pada 2 September 1970, Getafe meresmikan stadionnya sendiri setelah kembali dipromosikan ke Tercera División. Enam tahun kemudian Getafe mendapat promosi bersejarah ke Divisi Segunda. Setelah bermain enam musim di Segunda División, Getafe akhirnya terdegradasi.

Skuad Tim

Di penghujung musim 1981/1982, klub Getafe akhirnya dilikuidasi karena tak mampu membayar gaji para pemainnya. Setelah bergabung dengan berbagai klub sepak bola, pada tanggal 8 Juli 1983 Getafe Club de Futbol akhirnya resmi berdiri kembali. Berawal dari liga regional pada musim 1983/1984, Getafe akhirnya dipromosikan ke Divisi Segunda pada musim 1994/1995 dan pada 1 Januari 1998, stadion baru, Coliseum Alfonso Pérez, diresmikan.

Getafe berhasil kembali ke Divisi Segunda untuk musim 1999/2000, namun setelah dua musim disana Getafe harus terdegradasi lagi ke Divisi Tercera. Satu musim di Divisi Tercera, Getafe naik lagi ke Divisi Segunda untuk mengikuti musim 2002/2003, dan pada tahun 2004 Getafe akhirnya berhasil menorehkan sejarah dengan promosi pertama mereka ke La Liga.

Musim perdananya di La Liga berhasil mempertahankan statusnya dengan finis di pos 13. Prestasi puncak Getafe juga datang pada musim 2006/2007 dimana Getafe berhasil melaju ke final Copa del Rey dengan mengalahkan klub tangguh Barcelona di semifinal. Meski kalah 0-1 di final dari Sevilla dan Getafe hanya bisa finis di peringkat sembilan klasemen La Liga, Getafe tetap mendapat satu tiket kualifikasi Piala UEFA karena pada saat yang sama Sevilla finis di peringkat ketiga klasemen sementara La Liga dengan skor 0-1. mengamankan tiket Liga Champions. Musim 2007/2008, Getafe kembali memberikan kejutan dengan sukses mencapai perempat final Piala UEFA yang kandas dari klub Bayern Munich. Getafe juga sempat sukses di Copa del Rey dengan mencapai final lagi meski kalah 1-3 dari Valencia.

See also  Sejarah Juventus FC dan Real Sociedad

Kostum Tim

Perjalanan pahit Getafe datang pada musim 2008/2009 dimana Getafe harus bekerja keras menghindari zona degradasi yang akhirnya finis di pos 17, satu tingkat di atas zona degradasi. Menjalani musim 2009/2010 Getafe kembali ke jalur bagus dengan finis di peringkat enam untuk merebut satu tiket Piala UEFA. Menjalani musim Getafe 2010/2011 mulai tidak konsisten, sehingga di kompetisi Eropa harus tersingkir dengan cepat di babak Grup H dan di La Liga Getafe sempat tersandung di zona degradasi namun berhasil mempertahankan statusnya, finis di peringkat 16. pos.

Prestasi Getafe

2 kali runner-up Piala Spanyol: 2007 dan 2008

1 kali Segunda División B – Grup 1: 1999

Sejarah Club PSM Makassar

Pada tanggal 2 November 1915, Hindia Belanda menjadikan Makassar sebagai pusat pemerintahan di Indonesia Timur. Istana Hindia Belanda saat itu terletak di Jalan Jendral Sudirman atau yang sekarang dikenal sebagai Gubernur Sulawesi Selatan. Saat itu Makassar dikenal sebagai Bandar Makassar, pusat pelabuhan Indonesia. Berbagai kapal asing menjadikan Bandar Makassar sebagai pusat pelayaran bagi mereka, sedangkan untuk kapal-kapal dalam negeri menjadikan Bandar Makassar sebagai tempat persinggahan untuk menjual segala rempah-rempah dan hasil pertanian mereka kepada kapal asing.

Kegiatan bertaraf internasional ini turut mempengaruhi masyarakat Makassar untuk mengenal olahraga masyarakat yang sangat digandrungi dunia. Yakni, sepak bola. Maka, pada tanggal 2 November 1915, sebuah klub sepak bola resmi didirikan di Makassar bernama Makassar Voetbal Bond (MVB). Para pemain di klub ini merupakan campuran dari putra elit Belanda dan penduduk asli Makassar. Saat itu, dua pemain MVB yang sangat terkenal adalah Sagi dan Sangkala. Karya MVB menjadi perbincangan hangat di luar negeri. Beberapa kali MVB menerima undangan dari luar negeri untuk pertandingan persahabatan.

See also  Sejarah Arema Indonesia dan West Ham United

Tahun 1926 – 1940 merupakan masa keemasan bagi klub MVB. Apalagi saat itu, sejumlah klub sepak bola terbentuk di berbagai daerah seperti di Sumatera, Kalimantan dan Bali hingga pulau Jawa. Sangkala yang kala itu merupakan pemain MVB handal juga mencatatkan diri sebagai promotor pertama klub binaan Hindia Belanda ini. Sejumlah klub di Indonesia mengundang klub MVB untuk pertandingan persahabatan dan resmi. Kala itu, kemenangan demi kemenangan diraih Sangkala dan kawan-kawan. Klub ini juga menjadi klub yang disegani selama pemerintahan Hindia Belanda masih berkuasa di Indonesia.

Pada tahun 1942, ketika Jepang mulai masuk ke Indonesia ke Makassar, klub MVB mengalami stagnasi. Tidak ada lagi permainan dan perkumpulan yang ‘berbau’ Belanda. Segala bentuk yang berbau Belanda dihilangkan, termasuk Makassar Voetball Bond. Aturan dari Jepang ini juga dimanfaatkan oleh putra-putra Makassar yang segera mengubah nama Makassar Voetball Bond menjadi Persatuan Sepak Bola Makassar yang sekarang bernama PSM. Jepang yang menduduki Indonesia selama 3 tahun tidak menyurutkan semangat anak-anak PSM untuk melatih dan mengharumkan nama PSM. Bahkan saat itu, berbagai klub lokal lahir di bawah bendera PSM Makassar. Meski mendapat tekanan dari Jepang, roda persaingan PSM mulai berjalan.

Hingga akhirnya Jepang meninggalkan Indonesia pada tahun 1945. Seiring dengan itu, PSM Makassar semakin bersinar sebagai klub tertua di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Karena PSM merupakan tim pertama di Indonesia, persiapan sebagai pesepakbola tidak diragukan lagi. PSSI yang dibentuk tahun 1930 ini menyebut sejumlah pemain ternama.

See also  Sejarah Malaga Club dan Athletic Bilbao

PSM untuk memperkuat Timnas Indonesia. Dan yang paling terkenal adalah Ramang, pemain PSM yang menjadi legenda sepak bola Indonesia. Pada tahun 1950, PSM sering mengunjungi pulau Jawa, Kalimantan dan Sumatera. PSM sebagai klub tertua menjadi semangat bagi putra-putra daerah lain untuk membentuk klub sepak bola hingga kemudian lahirlah kompetisi serikat pekerja di PSSI.

Tahun 1957 saat Union Final mempertemukan PSM Makassar vs PSM Medan. Di situlah PSM pertama kali menang sebagai klub di bawah payung PSSI. PSM pun menjadi buah bibir, seolah-olah PSM adalah timnas Indonesia saat itu. PSM adalah klub elit saat itu. Secara berturut-turut, PSM meraih gelar liga pada 1959, 1965, 1966, dan 1992. Sementara di level internasional, PSM Makassar sudah dua kali mewakili Indonesia di Liga Champions Asia. PSM adalah klub yang stabil sampai saat ini. Bahkan PSM Makassar pernah menjamu Makassar sebagai tuan rumah Asian Champions League Quarter-Final, dimana untuk pertama kalinya Indonesia menjadi tuan rumah LCA Quarter-Final yang menampilkan klub-klub dari Jepang, China dan Korea.

Melalui klub bernama Persis (Persatuan Sepak Bola Sulawesi), Ramang masuk kompetisi PSM dan berhasil mencetak gol terbanyak dari kemenangan 9-0 untuk klubnya. Hingga tahun 1947, ia mulai bergabung dan memperkuat PSM, saat itu masih bernama Makassar Voetbal Bond (MVB). Berkat kepiawaian dan kecepatan Ramang, PSM Makassar berhasil merebut tangga juara di era persatuan. Tak hanya di level sepakbola nasional, Ramang juga brilian dan ditakuti di kompetisi internasional saat menjadi pemain nasional Indonesia. Pada tahun 1954 dalam kunjungan ke PSSI di Asia, Ramang telah mencetak 19 gol dari 25 gol di semua pertandingan.

Saat itu Hindia Belanda menjadikan Makassar sebagai pusat pemerintahan di Indonesia Timur. Istana Hindia Belanda saat itu terletak di Jalan Jendral Sudirman atau yang sekarang dikenal sebagai Gubernur Sulawesi Selatan. Makassar saat itu terkenal dengan